Headlines News :
Home » » psikologi umum

psikologi umum

BAB I PEMBAHASAN A. Psikologi, Jiwa, dan Perilaku Kata Psikologi berasal dari bahasa Inggris Psychology, yang berakar dari paduan bahasa Yunani “Psyche” (= jiwa, meniup) dan “logos” (=nalar, ilmu). Dalam mitologi Yunani Kuno, Psyche adalah seorang gadis cantik bersayap seperti kupu-kupu. Jiwa dilambangkan dengan gadis jelita, sedangkan kupu-kupu melambangkan keabadian. Apabila diartikan secara harfiah dari etimologi ini maka Psikologi berarti Ilmu Jiwa. Kaitan psikologi dengan jiwa memang suatu keniscayaan, seperti yang dikatakan Badri berikut ini: “a psychology without soul studying a man without soul”. Namun tepatkah Psikologi ditafsirkan sebagai ilmu yang membahas tentang jiwa? Secara keilmuan, jiwa dipahami sebagai sesuatu yang terlalu abstrak dan tak mungkin utuh diteliti. Ilmu pengetahuan menghendaki objeknya bisa diamati, dicatat, dan diukur. Maka dengan dipelopori J.B. Watson (1878 -1958) para ahli memandang psikologi sebagai “ilmu yang mempelajari perilaku”. Perilaku dianggap lebih mudah diamati, dicatat, dan diukur (I:3). Oleh karenanya yang dipelajari dalam psikologi bukan jiwa itu sendiri, tetapi lebih pada gejolak kejiwaan, terutama kondisi-kondisi, proses-proses, dan fungsi-fungsi kejiwaan.yang menampakkan diri pada perilaku sebagai suatu konkretisasi gejala jiwa yang abstrak. Ini selaras dengan penjelasan Waty Soemanto (1988) bahwa jiwa merupakan kekuatan dalam diri yang menjadi penggerak bagi jasad dan tingkah laku manusia. Demikian dekatnya fungsi jiwa dengan tingkah laku maka berfungsinya jiwa dapat diamati pada tingkah laku yang tampak (Wasty membedakannya dengan arwah, sukma, nyawa, dan akal). Sedangkan tingkah laku dimaknai bukan hanya sebagai perbuatan-perbuatan yang dihayati, tetapi juga sebagai reaksi-reaksi individu yang simbolik dan tersembunyi sebagai akibat dari motivasi diri ataupun akibat stimulasi dari lingkungan. Psikologi modern kemudian menyatakan diri sebagai sains yang mempelajari perilaku manusia, dengan asumsi bahwa perilaku merupakan ungkapan dan cerminan dari kondisi-kondisi, proses-proses, dan fungsi-fungsi kejiwaan. Meskipun demikian, arti perilaku ini diperluas tidak hanya mencakup perilaku kasat mata seperti makan, minum, menangis, membunuh dan lain-lain, tetapi juga mencakup perilaku tidak kasat mata seperti fantasi, imajinasi, motivasi, atau proses saat tidur (I: 4). Di dalam tradisi-tradisi ketimuran seperti di Indonesia, “jiwa” sering dihubungkan dengan masalah mistik, kebatinan, dan kerohanian. Dengan demikian lebih tepat bila menggunakan istilah Psikologi dari pada Ilmu Jiwa untuk menunjuk pada disiplin ilmu ini, seperti yang dikatakan Gerungan (1966) bahwa istilah ilmu jiwa menunjukkan ilmu jiwa pada umumnya, sedangkan psikologi menunjuk ilmu jiwa yang ilmiah, yang scientific, menurut koridor ilmiah modern. Psikologi mempelajari perilaku organisme, yaitu entitas biososial – karena tiap organisme mempunyai kesatuan sistem biologis dan sosial sekaligus dari binatang bersel satu sampai dengan manusia. Organisme inilah subjek perilaku; dan perilakunya menjadi objek psikologi. Psikologi berasal dari dua kata (bahasa Yunani): psyche yang berarti jiwa (soul)dan logos yang berarti ilmu.Akar dari psikologi adalahfilsafat dan fisiologi.Filsafat (philosophy)berasal dari kata philos yang berarti cinta (love) dan Sophia yang berarti kebijakanaan (wisdom). Jadi filsafat adalah ilmu yang mencintai kebijaksanaan. Sedangkan physiology adlah cabang dari biologi yang berkaitan dengan kajian ilmih tntang bagaimana fungsi-fungsi mahkluk hidup. Psikologi mempelajari: 1. Prilaku abnormal 2. Cara-cara menjadi pemenang 3. Bagaimana mempengaruhi orang lain 4. Bagaimana mengamati warna 5. Bagaimana lapar dipengaruhi otak 6. Bagaimana sipanse dapat menggunakan bahasa untuk berkomunikasi B. Objek Salah satu syarat mutlak untuk dapat dikategorikan sebagai ilmu, maka psikologi harus jelas objek kajiannya. Perkembangan terkini disiplin ilmu psikologi tidak hanya membatasi pada manusia, tetapi juga “jiwa” hewan. Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa objek material (apa yang dikaji) psikologi adalah organisme (manusia dan hewan). Sedangkan objek formalnya (cara meninjau) adalah gejala kejiwaan atau perilaku organisme. Perilaku yang tampak hanya sebagian dari gejala kejiwaan. Oleh karena itu pengertian perilaku dalam psikologi mencakup pula efek, akibat, bekas, atau perpanjangan ekspresi nyata seperti cara-cara berbicara, berpikir, mengendalikan perasaan, mengerjakan sesuatu, sikap, sifat, dan kebiasaan sehari-hari lain. Bahkan efek tersebut membekas pula di alam tak sadar. Dalam hal ini perilaku atau tingkah laku diartikan sebagai perilaku organisme sebagai individu, baik yang dapat diamati secara langsung, seperti tindakan dan perbuatan. Maupun yang tak langsung seperti proses berpikir, emosi, kemauan, dan dinamika kehidupan dunia-dalam seseorang. Sebagai objek studi empiris, perilaku mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: 1. Perilaku itu sendiri kasat mata, tetapi penyebabnya mungkin tak dapat diamati langsung. 2. Perilaku terdiri beberapa tingkatan: perilaku sederhana dan stereotip seperti perilaku binatang satu sel, ada juga perilaku yang kompleks seperti pada manusia. Ada perilaui yang sederhana seperti refleks, ada juga yang melibatkan proses-proses mental-fisiologis yang lebih tinggi. 3. Klasifikasi perilaku yang umumnya dikenal adalah kognitif (cipta, rasio, nalar) = akal , afektif (rasa, emosi) = kalbu, konatif (karsa, kehendak, hasrat) = nafsu, dan psikomotorik (daya penggerak fisik).. 4. Perilaku bisa disadari maupun tidak disadari. Kadang-kadang kita bertanya mengapa kita berperilku seperti itu (I: 4-5). C. Terminologi Sebagai sebuah ilmu yang mewakili kompleksitas persoalan dalam kehidupan kemanusiaan kontemporer, psikologi tidak pernah memperoleh batasan yang tunggal. Meskipun secara umum terdapat persamaan pokok-pokok pengertian di antara berbagai macam definisi terminologis tentang psikologi, namun memang lebih baik bila psikologi tidak dibatasi pada satu pemahaman tunggal. Berikut beberapa batasan tentang psikologi: 1. William Wundt: Psikologi adalah ilmu tentang kesadaran manusia (the science of human consciousness). 2. Mc. Mahon, Morgan, dkk.: Psychology is defined as the scientific study of human and animal behavior. (Bisa meliputi proses berpikir, perkembangan anak, maupun kemampuan problem solving simpanse. 3. Woodworth dan Marquis: Psikologi adalah the science of the activities of the individual. (Aktivitas dalam arti motorik, kognitif, dan emosional). 4. Branca: Psikologi adalah ilmu tentang tingkah laku. (Tingkah laku sebagai manifestasi hidup kejiwaan). 5. Psikologi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang perilaku dan psikologis serta proses-proses kognitif yang mendasarinya, merupakan profesi yang menerapkan pengetahuan tentang ilmu tersebut pada masalah-masalah praktis. D. Tugas dan Fungsi Psikologi Sains memiliki tiga fungsi utama, termasuk psikologi: 1. Fungsi pemahaman (understanding) Dapat memberi penjelasan yang benar, masuk akal, dan ilmiah tentang reaksi dan eksistensi objek yang dikaji (manusia, binatang, dsb). 2. Fungsi Pengendalian (control) Memberi arah tepat guna dan berhasil guna untuk berbagai kegiatan manusia, serta memanfaatkan temuan ilmiah secara benar untuk kesejahteraan manusia dan pengembangan ilmu dan teknologi. Juga mencegah penyalahgunaan asas dan temuan sains serta salah penerapan teknologi serta turut menanggulangi kerugian yang timbul. 3. Fungsi peramalan (prediction) Memberi gambaran tentang kondisi kehidupan di masa depan serta memperkirakan hal-hal di masa dating melalui metodologi dan prosedur ilmiah terhadap data akurat sekarang. Ilmu Psikologi diharapkan dapat menerangkan berbagai gejala perilaku manusia dan corak relasi serta kehidupan, di samping mampu memanfaatkan hasil-hasil temuan psikologis untuk menentukan kesehatan mental dan kesejahteraan manusia serta mencegah malpraktek dan mengatasi efek-efek negative lain. Juga mampu membuat perkiraan tentang pola perilaku manusia dalam berbagai situasi dan bagaimana akibatnya pada kehidupan pribadi dan nasional di masa mendatang. E. Syarat Kewenangan Ilmiah (Scientific Authority) 1. Memiliki objek 2. Hasil penyelidikannya disusun secara sistematis sehingga menjadi struktur ilmiah yang utuh dengan bagian-bagiannya yang saling berkaitan. Hasil penemuannya dicatat dengan teliti dan jelas berupa dalil maupun teori sehingga dapat digunakan sebagai pedoman dan bukan jawaban yang tepat terhadap permasalahan psikologis dalam kehidupan sehari-hari. 3. Memiliki metode ilmiah untuk mengadakan penyelidikan, penelitian, dan pengujian/pemjbuktian yang khas bercorak psikologis. 4. Memiliki riwayat/sejarah ilmiah tertentu. F. Metode Dalam memahami sesuatu, terdapat berbagai macam metode: metode ilmiah, metode otoritas, metode keyakinan (tenacity), dan metode intuisi. Objek studi psikologi dipelajari secara sistematik menggunakan metode-metode ilmiah yang menjamin objektivitas pengambilan kesimpulannya. Artinya, metode yang digunakan mampu mengamati, mencatat, mengukur perilaku seperti adanya. Metode ilmiah dalam psikologi dibedakan dalam dua bagian besar: 1. Metode Longitudinal Metode ini membutuhkan waktu yang relatif lama untuk mencapai suatu hasil penyelidikan. Perjalanan penyelidikan itu sendiri biasanya secara vertikal, misalnya tentang perkembangan anak. Hasil pengamatan dicatat hari demi hari sampai pada tahun demi tahun. Hasil tersebut dikumpulkan dan diolah kemudian disimpulkan. 2. Metode Cross-Sectional Relatif tidak membutuhkan waktu yang lama, dan biasanya bahannya banyak. Jalan penyelidikannya adalah horizontal, misalnya kuesioner. Cepat tapi kurang mendalam. Tujuan metode ilmiah dalam hal ini adalah mengukuhkan objektivitas dalam memahami sesuatu. Secara khusus, ada beberapa metode yang dipakai dalam psikologi. Berikut metode-metode tersebut. 1. Metode observasi wajar. Tujuannya mempelajari dan memerikan perilakiu dalam situasi dan kondisi yanng sebwenarnya tanpa mengganggu terjadinya perilaku tersebut. Bila kehadiran dan tujuan pengamatan diketahui subjek penelitian, maka disebut observasi terang-terangan (overti observation), sedangkan kebalikannya disebut observasi terselubung (covert observation). Pengamat sendiri bisa diluar medan pengamatan maupun berperan serta aktif (participant observation), tatapi tanpa memasukkan perasaan, prasangbka, dan anggapan-anggapan pribadinya. 2. Metode Survei Subjek penelitian diamati secara sistematik dan sekaligus ditanya baik menggunakan kuesioner maupun pertanyaan-pertanyaan langsung yang bebas dan sudah direncanakan peneliti. Karena harus bertanya pada subjek penelitian, maka respondennyapun (yang menjawab pertanyaan) relatif sedikit. 3. Metode Klinis Biasanya bagi yang abnormal, dengan pemeriksaan psikolog di klinik. Mencakup wawancara mendalam, penggunaan alat-alat tes diagnosa psikologis, dan studi kasus. Tujuannya untuk mengetahui sebab-sebab timbulnya gangguan perilaku dan kecenderungan-kecenderungan umum lainnya. Ini merupakan satu-satunya metode yang idiografik (memerikan perilaku individu sebagai peribadi yang unik), berbeda dengan metode lainnya yang nomothetik (menyimpulkan berdasarkan perilaku sekelompok orang). 4. Metode Eksperimen Peneliti (eksperimenter) memanipulasi atau mengatur beberapa kondisi dalam lingkungan individu. Tujuan pengamatan ini adalah untuk melihat hubungan yang jelas antara variabel-variabel yang diteliti, misalnya hubungan produktivitas dengan iming-iming hadiah, fasilitas kerja, dan perbedaan IQ. 5. Metode introspeksi Dengan melihat peristiwa kejiwaan dalam dirinya sendiri (baik eksperimen maupun non-eksperimen), tetapi dengan norma-norma ilmiah. Metode ini juga bisa disebut retrospeksi karena melihat juga masa lalu, bukan hanya masa sekarang. 6. Metode Ekstropeksi Melihat keluar, jadi subjek bagi orang lain, objektif, tetapi sebenarnya juga bercermin diri. 7. Metode Kuesioner/Angket Menggunakan daftar pertanyaan yang harus dijawab subjek. Terdiri dari dua bagian besar: langsung dan tak langsung, identitas dan pertanyaan-pertanyaan. 8. Metode Interview Menggunakan pertanyaan lisan secara langsung. 9. Metode Biografi Menggunakan tulisan tentang riwayat kehidupan seseorang 10. Metode Analisis Karya Menganalisis karya-karya seseorang (misalnya buku, bahkan buku harian). 11. Metode Testing Menggunakan soal, pertanyaan/tugas-tugas lain yang standar. Macam-macam tes: individu, kelompok, dengan pengamatan, perhatian, intelegensi, bahasa, dan peraga. 12. Metode Statistik Menggunakan statistik untuk materi/data yang terkumpul. G. Sejarah Singkat Perkembangan Psikologi Akar dari psikologi adalah filsafat dan fisiologi. Filsafat (philosophy) berasal dari kata philos yang berarti cinta (love) dan Sophia yang berarti kebijakanaan (wisdom). Jadi filsafat adalah ilmu yang mencintai kebijaksanaan. Sedangkan physiology adalah cabang dari biologi yang berkaitan dengan kajian ilmiah tentang bagaimana fungsi-fungsi mahkluk hidup. Filsafat memberikan sikap dan fisiologi memberikan metode. Sebelum psikologi lahir menjadi disiplin ilmu di abad ke-19, dua hal yang dibutuhkan yaitu sikap (attitude) dan metode. Orang telah mengambil sikap bahwa misteri jiwa harus dikaji secara objektif seperti halnya bagian lain dari dunia alamiah. Yang menemukan cara untuk mengobservasi, mengukur dan menyelidiki pristiwa yang bersifat fisik adalah fisika dan kimia, sehingga memungkinkan orang untuk menemukan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan psikologis. 1. Yunani Kuno (Akhir Abad 5 SM – Abad 4 SM) “Psikologi” amat ditandai dengan spekulasi, argumentasi logika belaka. Psikologi masih merupakan bagian dari filsafat dalam arti seumum-umumnya. Tokoh-tokohnya: Socrates, Hipocrates, Plato. Demikian kata Plato: “Man are made up of desire, emotion, and knowledge. Desire – sexuality – comes from the loins, emotions comes from the heart in the force and flow of blood, and knowledge comes from the head. Difference in personality stem from differences in the propositions of these three elements”. Bisa dicatat juga Aristoteles yang membagi jiwa dalam tiga macam: anima vegetative (tumbuhan), anima sensitive (hewan), dan anima intelektiva (manusia). 2. Abad Kegelapan (The Dark Ages, 400 SM – 900 M) Hampir tidak ada peluang untuk mempelajari atau mengekspresikan ilmu (Barat), namun di dunia Islam, ini masa-masa keemasannya dengan ushuluddin, tasawuf, dan ilmu-ilmu alam. Permasalahan kejiwaan juga didominasi teks-teks penafsiran ilmu atau filsafat yang bercorak keislaman. 3. Abad Pertengahan (The Middle Ages, 900-1400 M) Yang paling menentukan alam pikiran waktu itu adalah kerajaan dan gereja, sedangkan peran ilmu demikian terpinggirkan. Dominasi penafsiran kejiwaan dengan demikian juga terkungkung oleh monopoli penafsiran Gereja. Augustinus dengan metode filosofi religius mengemukakan cara bekerjanya jiwa manusia melalui tiga aktivitas: mengetahui, merasa, dan menghendaki. a) Untuk mengetahui sesuatu, jiwa menempuh empat cara kerja: mengamati, mengingat, berpikir, dan kombinasi ketiganya. b) Untuk merasakan sesuatu, jiwa menempuh empat cara kerja: mengingini, menikmati, takut, dan susah. c) Untuk menghendaki sesuatu, jiwa menempuh cara-cara: memilih di antara keinginan-keinginan, dan mengendalikannya. 4. Abad 17 – 19 Menurut John Locke, akal merupakan gudang dan pengembang pengetahuan yang berfungsi mengarahkan kekuatan-kekuatan berpikir dan berkehendak. Kekuatan berpikir disebut pengertian; kekuatan berkehendak disebut kemauan. Pengertian melibatkan aktivitas mental yang meliputi lima kekuatan: mengamati (mengindera, menalar, mengenal, meyakini), membedakan sesuatu (membandingkan), mengingat, mengabstraksi, dan menggunakan tanda-tanda atau symbol. Kemauan tidak sama dengan keinginan, lebih merupakan dorongan untuk mewujudkan ide, kemauan; jadi merupakan kekuatan untuk memilih. Tindakan memilih oleh Locke disebut volition. Agar dapat melakukan tindakan pemilihan (volition) perlu menggunakan kekuatan jiwa Liberty yang memusnahkan keraguan menurut kepentingan akal. 5. Renaissance (= rebirth) Masa ini ditandai sebagai masa kembalinya pemikiran Yunani Kuno sebagai reaksi atas “gelapnya” kebodohan Middle Ages. Anggapan-anggapan “ilmiah” abad-abad Pertengahan misalnya bahwa “Bumi dianggap sebagai pusat alam semesta di mana matahari mengelilingi bumi” yang dilindungi kekokohan benteng agama (Kristen) ternyata di jaman Renaissance mulai secara rasional ditinggalkan dan diganti dengan tesis baru yang lebih akrab dengan penyelidikan ilmiah dari pada dengan dogma-dogma buta agama. Penggunaan logika sebagai panglima utama dunia ilmiah juga merasuki bidang ilmu psikologi. Rene Descartes (1596-1650) – teori tentang kesadaran, Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716) – teori tentang kesejajaran psiko-fisik, John Locke (1623-1704) – teori tabula rasa; mereka adalah tokoh-tokoh psikolog-filsuf yang menonjolkan penggunaan spekulasi dan argumentasi logika termasuk pada penerapan ilmu faal yang menyelidiki gejala kejiwaan melalui eksperimen teruitama tentang syaraf sensoris dan motoris. 6. Enlightnment Abad Pencerahan ini ditandai dengan munculnya teori evolusi. Penemuan-penemuan medis/faal akhir renaissance menandai tonggak sejarah baru untuk psikologi, karena psikologi memperoleh basis pemahaman yang lebih kuat dengan fungsi-fungsi fisiologis manausia yang relevan dengan perilaku psikologis manusia. Di pertengahan abad 19, Charles Darwin dengan teori evolusi-nya menandai terbukanya peluang yang signifikan untuk psikologi karena teori eviolusi memicu lebih jauh kebebasan untuk mengeksplorasi manusia sebagai “animal/binatang”. Teori evolusi ni menegaskan bahwa belajar tentang organisme sederhana merupakan sebuah metode untuk memahami bagaimana fisiologi dan keseluruhan aspek hidup manusia bekerja dan berfungsi. 7. Abad 19 – Sekarang (Masa Psikologi Mandiri) Filsafat sebagai mother of science mulai terpisah dari ilmu-ilmu lain. Oleh karena itu, bila di jaman-jaman sebelumnya psikologi banyak terpengaruh pemikiran spekulatif a la filsafat, maka di masa psikologi mandiri ini gejala kejiwaan dipelajari secdara lebih sistematik dan objektif. Wilhelm Wundt, seorang dokter dan ahli hokum, pada tahun 1879 mendirikan laboratorium psikologi yang pertama untuk menyelidiki gejala-gejala kejiwaan secara eksperimental. Ini menjadikan psikologi lebih diakui eksistensinya di dunia ilmiah. Wundt kemudian disebut sebagai bapak psikologi (father of psychology). Hal ini sekaligus mempertegas psikologi yang tadinya filosofis menjadi psikologi empiris. Perkembangan ilmu fisika dan kimia mempengaruhi munculnya ilmu biologi. Salah satu kajian dalam ilmu biologi adalah ilmu perilaku, di mana terdapat tiga kajian utama: antro, sosio, dan psikologi (Marx, 1976). Pada ini juga terjadi perkembangan pesat psikologi dengan metode dan teknik khusus seperti strukturalisme, asosiasiisme, psikoanalisis, fungsionalisme, teori gestalt, behaviorisme, psikologi humanistic, dan psikologi transpersonal. K. Macam-Macam Pendekatan terhadap Psikologi 1. Pendekatan neurobiologis Memandang bahwa tingkah laku disebabkan oleh gabungan sel-sel syaraf (“neuro”) dan perubahan-perubahan kimiawi otot-otot dan perubahan fisik manusia (“biologis”). 2. Pendekatan Perilaku (Behavioris) Menekankan nilai penting kejadian-kejadian eksternal yang menyebabkan tingkah laku lebih dari pada sekedar melihat motivasi dalam yang rumit dan sebab-sebabnya. Organisme merupakan produk akhir dari apap[un yang telah terjadi terhadap dirinya dalam suatu lingkungan. We are what we learn to be, change the environment and you also change the end product. 3. Pendekatan Fenomenologi Menekankan segi-segi internal manusia (kebutuhan, kepentingan, dsb) yang secara tetap berubah, tetapi sangat individual (khas, unik). Tiap insan begitu unik. 4. Pendekatan Humanistik Mengambil posisi bahwa kita selalu bergerak ke arah yang lebih baik tetapi seringkali dihalangi oleh lingkungan yang tidak baik. 5. Pendekatan Psikoanalitik Suatu system kepercayaan yang menekankan diri-dalam sendiri yang digerakkan oleh kebutuhan dasar akan sex dan mortalitas (agresi), yang beroperasi pada level ketidaksadaran. 6. Pendekatan Kognitif Menekankan bahwa perilaku itu dikendalikan oleh proses berpikir, alasan-alasan, dan problem solving. Ini merupakan blend of humanism and behaviorism: “the most important human ability is our capacity to take information from ther environment, analysis it in a systematic way and come up with a solution its problem…” L. Lima Ketertarikan dalam Psikologi 1) Memahami otak – fungsi-fungsinya dan cara kerjanya dalam meditasi, dzikir, dsb. 2) Menggunakan komputer – artificial intelligence (bagaimana kerja “otak”nya mesin) 3) Memahami proses-proses sosial – kita tidak memperlakukan dunia keluar lepas dari sesuatu yang nyata secara objektif, sebenarnya kita berpikir kita melakukannya. 4) Mencegah gangguan mental 5) Pengobatan perilaku – terapi psikologi. M. Aliran Besar Psikologi Sampai dengan abad XX, terdapat empat aliran besar psikologi yang menjelaskan bagaimana teori dan filsafat tentang manusia: 1) Psikoanalisis 2) Psikologi Perilaku 3) Psikologi Humanistik 4) Psikologi Transpersonal. N. Ruang Lingkup Psikologi 1. Dari Segi Objek a) Psikologi yang mempelajari manusia b) Psikologi yang mempelajari binatang 2. Dari Segi Sifat Aktivitas/Perilaku Manusia a) Psikologi Umum Psikologi yang menyelidiki dan mempelajari kegiatan-kegiatan/aktivitas-aktivitas psikis manusia yang tercermin dalam perilaku pada umumnya, yang dewasa, normal, dan beradab. Di sini manusia seolah-olah saling terlepas dari manusia lainnya. b) Psikologi Khusus Psikologi yang menyelidiki segi-segi khusus dari aktivitas psikis manusia. Hal-hal yang menyimpang dari hal-hal umum dibicarakan di sini. c) Psikologi Perkembangan (perkembangan sejak bayi sampai usia lanjut) d) Psikologi Sosial (aktivitas manusia dalam hubungannya dengan situasi-situasi sosial) e) Psikologi Pendidikan f) Psikologi Kepribadian g) Psikologi Kriminal h) Psikopatologi i) Psikologi Perusahaan j) …dan sebagainya 3. Dari Segi Teori-Praktis a) Psikologi Teoritis – dari ilmu itu sendiri b) Psikologi Praktis – misalnya psikologi industri, psikologi klinik, dsb. BAB II KESIMPULAN Dari pembahasan makalah tersebut diatas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa, Kata Psikologi berasal dari bahasa Inggris Psychology, yang berakar dari paduan bahasa Yunani “Psyche” (= jiwa, meniup) dan “logos” (=nalar, ilmu). Dalam mitologi Yunani Kuno, Psyche adalah seorang gadis cantik bersayap seperti kupu-kupu. Jiwa dilambangkan dengan gadis jelita, sedangkan kupu-kupu melambangkan keabadian. Apabila diartikan secara harfiah dari etimologi ini maka Psikologi berarti Ilmu Jiwa. Sains memiliki tiga fungsi utama, termasuk psikologi: 1. Fungsi pemahaman (understanding) Dapat memberi penjelasan yang benar, masuk akal, dan ilmiah tentang reaksi dan eksistensi objek yang dikaji (manusia, binatang, dsb). 2. Fungsi Pengendalian (control) Memberi arah tepat guna dan berhasil guna untuk berbagai kegiatan manusia, serta memanfaatkan temuan ilmiah secara benar untuk kesejahteraan manusia dan pengembangan ilmu dan teknologi. Juga mencegah penyalahgunaan asas dan temuan sains serta salah penerapan teknologi serta turut menanggulangi kerugian yang timbul. 3. Fungsi peramalan (prediction) Memberi gambaran tentang kondisi kehidupan di masa depan serta memperkirakan hal-hal di masa dating melalui metodologi dan prosedur ilmiah terhadap data akurat sekarang. DAFTAR PUSTAKA Prasetya, Falsafah Pendidikan, Pustaka Setia, Jakarta, 1997 Sudjana, Nana, Teori-teori Belajar untuk Pengajaran, Fakultas Ekonomi Uiversitas Indonesia, Jakarta, 1991 Suryabrata, Sumadi, Psikologi Pendidikan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, cet. ke-IX, 1998 Tirtaraja, Umar, dkk, Pengantar Pendidikan, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 1998 Wilis Dahar, Ratna, Teori-teori Belajar, Depdikbud Dirjend Pendidikan Tinggi PPL Pendidikan Tenaga Kependidikan, Jakarta, 1980
Share this article :

Blog Archive

Digital clock

Followers

Search This Blog

Loading...

Blogger Themes

Random Post

Google+ Followers

Bagaimana Pendapat Anda dengan Blog ini?

Trending Topik

EnglishFrenchGermanSpainItalianDutch

RussianPortugueseJapaneseKoreanArabic Chinese Simplified
SELAMAT DATANG
script>

Google+ Badge

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Berbagai Kumpulan Makalah - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template